Saturday, September 2

WHAT MAKES DIFFERENT TO BE A MOTHER


Ungkapan yang tidak akan selesai jika dikaji, menjadi ibu menjadikan seseorang tegar setegar baja, untuk dapat terus kuat dan sehat, agar selalu dapat membesarkan dan mendampingi anak-anaknya. Menjadi ibu juga menjadikan aku selalu rajin menjaga kebersihan rumah agar jauh dari bau busuk kotoran, ataupun dari bakteri, sekalipun dalam memilih sabun mandi, pada akhirnya aku lebih memilih untuk memilih sabun mandi antiseptik yang mengandung anti bakteri ketimbang sabun mandi kecantikan. Dalam berbicara, membuatku senantiasa selalu sadar agar selalu menjaga perkataan, dari kata-kata yang tidak selayaknya didengar oleh malaikat kecilku, yang sekarang sedang senang menirukan kata-kata baru, atau dalam hubungan vertikalku, menjadi seorang ibu menjadikanku selalu dalam kepasrahan, dan doa semoga kelak anak kami selalu mendapatkan perlindungan. Berjuta, bahkan tidak satupun ungkapan yang cukup mewakili perasaan seorang ibu pada buah hatinya, ada ketegaran, ada kelembutan dan ada ketegasan, yang semuanya itu mengantarkan sang anak pada suatu kasih sayang tulus yang tidak terkira.

MENG-ORANGKAN DAN DI-ORANGKAN

Mungkin begitu berakarnya pengaruh pemerintahan rezim orde baru pada mental para birokrat, terutama para birokrat yang ditugaskan diluar negeri di lembaga perwakilan negara, pergaulan horizontal yang sifatnya heirarkis terkadang membuat tidak mengenakkan dipandang mata. Mungkin lingkup departement luar negeri yang mempunyai korp tersendiri sehingga membentuk suatu komunitas heirarkis, dimana jabatan adalah segalanya, meskipun itu hanya sementara. Sepertinya pola kebebasan, fraternity tidak memberikan pengaruh yang berarti pada perwakilan2 yang ada di luar negeri, istilah dia yang berpangkat lebih tinggi dan lebih banyak uang dia akan banyak memberi pengaruh.


Komunitas yang segelintir ini pada akhirnya memandang siapa dibawah mereka dengan pandangan yang tidak meng-orangkan, merasa bahwa lembaga organisasi istri pegawai hanyalah dimiliki oleh segelintir orang yang mengaku dirinya sebagai pengurus dan tertua, pengurus yang terpilih secara aklamatis tanpa prosedural transparan sehingga seluruh anggota dapat mengetahui mekanisme pemilihan tersebut. Lagi-lagi pola heirarkis yang menjawab kenapa hal itu bisa terjadi, lainnya tidak dapat berkutik, diam atau hanya berpura-pura memasang muka manis, tanpa memberikan sumbangan keberatan. Dan itulah yang terjadi, sambil bersabar menunggu pengganti baru yang akan datang, yang mungkin tidak lebih baik dari yang saat ini, nasib orang yang tidak di-orangkan, hanya dapat berharap semoga suatu saat pengganti yang akan datang dapat meng-orangkan orang lain.