Terhitung sejak hari Kamis kami kedatangan tamu dari tanah air, tepatnya partner bisnis kakak saya, dalam rangka survey market ke daerah sentra kerajinan furniture di Pakistan yang letaknya di Gujranwala. Tamu yang datang semenjak hari Minggu ini akhirnya bisa datang juga berkunjung dan menginap dirumah kita yang sederhana, setelah bargaining dengan rekan bisnisnya yang orang Pakistan, karena ditahan agar seminggu dirumahnya aja, tidak perlu mampir ke Islamabad.
Kamis petang, kita ajak jalan keliling kota, city tour lah..melihat-lihat suasana Islamabad yang rapi, ngga macet, jalan raya yang lebar dan link road semuanya, sampai kita bawa menuju kawasan Faisal Avenue, melirik sejenak kemegahan Faisal Mosque yang diapit oleh keindahan lereng Margalla Hill, kemudian kita naik keatas menuju ke tempat wisata Dominoque..kawasan diatas bukit Margalla, dimana kita bisa menyaksikan sunset dicelah apitan bukit, sambil menikmati menikmati udara yang mulai gelap dan hanyut oleh dinginnya musim dingin yang temperaturnya masih di kisaran 5-8 derajat celsius.Sapuan angin dingin mengingatkan kita untuk segera menyudahi acara duduk diluar ini, dan meneruskan city tour ini menuju kawasan red zone, wilayah deretan Constitution Avenue sampe kawasan Diplomatic Enclave (komplek kedutaan), dimana tidak sembarang mobil yang diperbolehkan untuk melintasi kawasan ini, kecuali mobil-mobil yang plat nomornya sudah terdaftar. Melihat-lihat barisan komplek penting di negara ini, dari mulai deretan perkatoran Supreme Court (Mahkamah Agung) yang berhadapan dengan bangunan Federal Shari'ah Court, kemudian komplek gedung parlemen, gedung Perdana Menteri sampai kita memasuki kawasan diplomatic enclave, yang diantaranya banguan Kedutaan Perancis yang berdiri kokoh laksana bangunan sebuah benteng raksasa, belum lagi barikade beton yang hampir memenuhi setengah ruas jalan raya, mungkin sebuah euphoria pada situasi kemanaan yang berfluktuasi, sehinga pengamanan superketat diterapkan, sampai kadang-kadang seperti ngga masuk akal.

Setelah melewati kawasan kedutaan Prancis kita berbelok menuju arah Abpara market yang melintasi Serena Hotel, yang saat ini menjadi satu-satunya hotel berbintang lima, dimana tempat jamuan-jamuan kelas tinggi seringkali diadakan, setelah porak-porandanya hotel Marriot diterjang bom Romadhon waktu, meskipun saat ini sedang dalam perbaikan tetapi guncangan bom tersebut seperti masih jelas teringat dibanak kita yang tinggal dikawasan Islamabad.
Islamabad, jika dilihat sekilas, kita tidak terlihat keaslian tradisi Pakistannya, yang kumuh semprawut dan campur aduk kayak adonan kue, yang terlihat sekilas adalah sebuah kota, yang ngga macet, rapi, teratur, dengan resort-resort wisata yang menarik dan nyaman untuk menghilangkan kepenatan, wilayah jogging park yang biasanya menyatu dengan tempat playground anak-anak yang hampir disetiap sektor perumahan penduduk tersedia secara gratis dan terawat. Mungkin jika boleh saya mengatakan, jika mengunjungi Pakistan hanya di Islamabad, belum cukup, karena keunikan tradisi justru terdapat jika anda sedikit melancong agak keluar kota Islamabad..nah..disana baru akan anda temukan keaslian tradisi..:)Untuk template, ini merupakan hasil jepretan dengan kamera Nikon D-80, minggu lalu ketika kita berlibur dua hari di bukit Murree, ketika pulangnya kita terjebak macet selama kurang lebih empat jam karena badai salju.












