Munculnya pergerakan yang mengatasnamakan diri dengan Taliban, di kawasan lembah Swat serasa mengusik keindahan dan kedamaian 'paradise on earth' Pakistan. Pengaruh kelompok Taliban ini telah menguasai hampir semua wilayah Swat. Mereka menghancurkan sekolah-sekolah, terutama sekolah-sekolah perempuan, jembatan-jembatan dihancurkan, karyawan partai politik disandera atau bahkan dibunuh, para jurnalis dan wartawan dianiaya, bahkan terakhir seorang wartawan stasiun televisi ditemukan telah meninggal dalam keadaan tertembak. Sementara pemerintah daerah tidak bisa berkutik.Lembah yang tadinya subur, karena merupakan sentra agrobisnis, menjadi gersang, pohon-pohonan menggapai langit, terlunta, sedih tak berbuah. Para guru-guru perempuan dipaksa untuk tidak mengajar dan tinggal dirumah, toko video atau vcd dibakar dan para tukang cukur diancam agar tidak mencukur jenggot karena dianggap tidak Islami. Hanya dalam kurun waktu dua tahun, kurang lebih 800 hotel dan 405 restoran tutup di kawasan lembah ini. Yang tadinya merupakan surga bagi para hikers, dan backpackers untuk menikmati sejuknya musim panas di lembah ini atau hiking menaklukkan barisan pegunungan Himalaya, sambil berkemah di lembah Karakoram.
Hampir tiga tahun yang lalu kami menyempatkan mengunjungi lembah indah ini, perjalanan darat yang memakan waktu kurang lebih 5 jam dari Islamabad, melintasi kisi-kisi jalan yang meliuk-liuk disela-sela pegunungan, serasa berjalan diatas awan. Ya..lembah ini menyimpan berjuta pesona alam yang tidak terlukiskan. Dan keindahan alam tersebut menjadikan Swat menjadi obyek wisata alam yang digemari oleh para wisatawan asing. Tetapi nampaknya hal tersebut tidak demikian, semenjak orang-orang ini mulai melebarkan pengaruhnya di kawasan ini. Terlebih lagi dengan adanya seruan 'travel warning' untuk kawasan Pakistan makin menambah sepinya pengunjung. Mungkin, jangankan turis, wartawan saja, setelah terbunuhnya wartawan Geo News, menyerukan agar tidak masuk kawasan ini, karena mereka diancam. Sehingga satu-satunya wilayah aman bagi mereka adalah di kawasan press club Swatt.

Populasi penduduk Swat yang hanys sekitar 1.5 juta, dan dua pertiga penduduk lebih memilih untuk bermigrasi keluar daerah ini. Hampir 200 orang, termasuk perwira-perwira penting telah terbunuh karena sasaran ledakan bom yang ditanam di wilayah-wilayah penting, atau di gedung-gedung pemerintahan.
Aksi mereka tidak sebatas menutup sekolah perempuan, tetapi mereka bahkan merusak hampir 165 sekolah-sekolah, sehingga pelajar-pelajar ini tidak bisa mengikuti ujian tahunan. Padahal peningkatan literacy rate di kawasan ini mencapai 75 persen pada tahun 2002 dibanding dengan tahun sebelumnya, dengan peningkatan sekitar 30.000 siswi yang masuk sekolah. Terlibatnya LSM-LSM asing dan juga bantuan pemerintah cukup membantu meningkatkan strata pendidikan di kawasan ini. Tetapi tampaknya perkembangan tersebut berubah drastis setelah semakin menguatnya pengaruh Taliban di kawasan tersebut. Sehingga saat ini diperkiraan lebih dari 80.000 pelajar perempuan terpaksa putus sekolah.
Apa sebetulnya yang mereka inginnya dengan membakar, merusak dan membuat puluhan ribu siswa siswi putus sekolah, membuat orang kehilangan pekerjaan, menghancurkan sarana tranportasi, dengan mengatasnamakan penerapan shariah. Hari ini jaminan keamanan di wilayah Swat dibarter dengan penerapan shariah. I wonder..apakah penduduk akan suka rela mengimplementasikan shariah dibawah ancaman dan ketakutan..?
Meskipun perang antara tentara Pakistan dan kelompok Taliban sejenak terhenti setelah pemerintah Pakistan dan kelompok militan Tahrike Nifase Islami Shariah (TNIS) di Swat membuat kesepatakan penerapan pengadilan shariah di Swat dengan janji stabilitas keamanan di kota itu. Tetapi, sungguh lucu dan ironis memang, bagaimana di sebuah negara Islam, terjadi gerakan bersenjata yang menuntut penegakan Shariah. Yang dapat kita tangkap antara dua kemungkinan. Pertama, pemerintah negara Islam Pakistan tidak menerapkan hukum Islam secara benar, atau kemungkinan kedua kelompok taliban ini ingin menerapkan hukum Islam versi mereka yang notabene berbeda dengan main stream Islam di Pakistan.
Yang kedua ini menurut saya lebih cocok untuk dikatakan, karena terlihat dari manuver kelompok Taliban selama ini dalam mengekspresikan tuntutan mereka dan dalam menerapkan sistem shariah. Mereka melarang sekolah untuk perempuan karena meyakini doktrin bahwa sebaik-baik perempuan dalam kacamata agama adalah yang tinggal di dalam rumahnya. Mereka ingin menerapkan sistem pengadilan kriminal (hudud) versi Islam lama seperti yang tercantum dalam kitab-kitab klasik, seperti melakukan ekskusi mati di pasar, memberikan hak qawad, yaitu memperbolehkan ekskusi mati terhadap pembunuh oleh keluarga terbunuh. Saya melihat sebuah foto menjengkelkan di koran lokal Pakistan, seorang tukang taksi menembaki seorang terpidana yang matanya ditutup dan tangannya diborgol di sebuah pasar disaksikan penduduk setempat. Menurut pemberitaan koran tersebut inilah pelaksanaan qawad di wilayah yang dikuasai Taliban. Perempuan juga harus menggunakan cadar (burqah). Burqah ini tidak seperti jilbab versi Indonesia. Burqah adalah pakaian model Asia Selatan menutupi seluruh anggota badan perempuan tanpa terkecuali.
Dan yang lebih kejam lagi adalah tidak adanya proses hukum yang transparan dalam putusan hukum mereka. Cukup dengan dasar fatwa seorang maulana atau maulawi, istilah Pakistan, kelompok Taliban dapat melakukan ekskusi hukuman. Fatwa bahwa si A adalah seorang mata-mata atau pelaku makar sudah sah untuk dijadikan justrifikasi oleh pasukan Taliban untuk membunuhnya dengan semena-mena.
Dengan pemberian wewenang kepada mereka untuk menerapkan hukum shariah di Swat apakah akan menjamin terciptanya keamanan dan stabilitas seperti yang selama ini kita dengar dari suara pemerintah Pakistan? Tampaknya masih perlu menunggu pembuktian. Banyak orang, termasuk saya, cenderung pesimis itu dapat terwujud.
Pertama karena Taliban tidak mempunyai kodifikasi hukum yang jelas. Mereka hanya mengatakan hukum Islam sesuai Quran, Hadist, Ijma' dan Qiyas. Itu hanya akan dijadikan alasan para maulana Taliban untuk membuat hukum sesuai pendapatnya dan diklaim sesuai Shariah.
Kedua, Taliban ini adalah gerakan haus darah. Membunuh, bom bunuh diri dan penyerangan massal sudah menjadi ciri khasnya sejak awal. Apapun yang tidak sesuai dengan pandangan mereka pasti diselesaikan dengan kekerasan. Baru-baru ini seorang wartawan tv ditembak mati di kota swat. Sebelumnya juga ada beberapa wartawan lain yang mengalami nasib serupa. Tidak ada bahasa advokasi bagi Taliban, yang ada adalah bahasa perang. Bagaimana kelompok seperti ini dapat memberikan keamanan dan ketentraman kepada warga.
Yang jelas, mari kita tunggu dan saksikan. Apakah Taliban di Swat juga akan mengalami nasib yang sama dengan Taliban yang ada di Afghanistan. Amerika memang tidak sepenuhnya benar dalam pendudukannya di Afghanistan. Tapi mereka itu datang ke sana dan menghancur leburkan negeri itu karena ditantang oleh Taliban. Begitu gerakan bawah tanah yang penuh kekerasan mulai melakukan institusionalisasi dalam bentuk sistem, maka akan mudah dan ada justifikasi untuk diserang. Lihatlah Hamas di Palestina ketika mulai memerintah Palestina dengan nama Hamas. Lihatlah Taliban di Afghanistan ketika mulai memerintah dengan nama Taliban.
Swat, sebuah lembah yang cantik dan indah di Pakistan, tinggal tunggu saatnya jadi neraka bagi siapapun termasuk penduduknya yang mayoritas muslim.
Data dari tulisan ini diambil dari tulisan yang diposting di www.thewashingtonpost.com, jika yang ingin membaca versi Ingrisnya disini, juga merupakan hasil wawancara suami dengan VOC beberapa hari yang lalu.














