
Sebentuk kemenangan yang mengharukan, disaat kondisi negara yang morat-marit dalam kungkungan berbagai kejadian yang membuat rakyat jelata semakin terhimpit. Ada sebentuk harapan cerah dan kebanggaan tersendiri, bahwa dalam kondisi yang serba sulit dan tidak terpredediksikan ini, tim Cricket nasional Pakistan berhasil memenangkan Twenty20 World Cup Championship, setelah Minggu malam pertandingan final yang menegangkan melawan Tim Cricket Srilanka yang diadakan di London.
Kata-kata sang kapten tim, Younus Khan yang mengharukan yang di rilis di berbagai media membuat kemenangan ini sebagai kemenangan yang extraordinary. ‘We hadn't won anything since Imran Khan's team at the World Cup in 1992. This is a our gift to our nation. Hopefully, it will help cheer them up.’ Semenjak kemenangan tim Imran Khan kita tidak lagi menjuarai World Cup, dan kemenangan ini merupakan hadian untuk bangsa kami, semoga dengan kemenangan ini dapat membuat mereka semua bahagia dan bangga.
Setelah peristiwa serangan atas tim cricket Srilanka beberapa waktu lalu, ada kepesimisan muncul karena tim cricket Pakistan terancam tidak bisa mengikuti turnamen bergengsi ini. Bukan hanya karena isu terorisme, serangan atas rombongan tim Srilanka yang hanya sehari sebelum pertandingan ini, menorehkan luka dalam atas masa depan keikutsertaan Pakistan pada turnamen Cricket Internasional, sehingga setelah peristiwa tersebut, organisasi cricket internasional melarang di adakannya turnamen cricket skala internasional di bumi Pakistan.
Dengan outdoor screen yang di pasang hampir di tiap sudut kamp pengungsian, membuat ribuan pengungsi ini dapat menyaksikan pertandingan bersejarah ini. Kurang lebih sekitar dua juta pengungsi dari kawasan NWFP dengan kondisi perang yang masih sengit di lembah Swatt antara tentara Pakistan dan militan dan diantara krisis yang terjadi di Waziristan Selatan, sebuah kabar gembira atas kemenangan ini seakan-akan menjadi single panaccea, atas penyakit akut yang selama ini telah di derita rakyat.
Tentu sudah bukan rahasia umum lagi, masalah keamanan internal, menjadikan kontingen asing merasa terancam keamanannya untuk dapat bermain di Pakistan. Karena semenjak peristiwa penembakan atlit cricket srilanka, praktis tidak ada lagi kontingen asing yang menjadi tamu di negeri Bhutto ini. Dan kesediaan London sebagai tuan rumah atas pertandingan final world cup cricket ini memberikan harapan baru dari kepesimisan kontingen cricket Pakistan.
Dan pertandingan hari Minggu kemarin menunjukkan bahwa mereka bertanding dengan semangat membara untuk menjadi pemenang. They played great..terlebih menit terakhir yang mendebarkan, dan Shahid Afridi pemain andalan tim ini berhasil menutup pertandingan ini dengan kemenangan yang menjadi tongak sejarah kemenangan Pakistan di ajang bergengsi Twenty20 World Cup Championship.
Sontak, pesta terdengar dimana mana, kegembiraan yang menjadi sebuah hiburan dari kepesimisan atas kondisi internal yang selalu diselimuti ketidakstabilan internal. Pesta kembang api, grup musik jalanan, orang membagi-bagikan sweet (sebuah tradisi dalam tiap perayaan tertentu mereka akan membagi-bagikan sweet, semacam manisan kepada siapa saja yang lewat), dan sebagian berkonvoi keliling kota sambil berjoget diiringi gendang pesta dari tempo lambat dan semakin cepat menghanyutkan rombongan konvoi pesta kemenangan ini.

Hari itu, sejenak headline berita dipenuhi dengan berita kemenangan tim Cricket Pakistan, dari channel BBC sampai CNN merilis kemenangan ini, lagu we are the champion di kumandangkan hampir di seluruh stasiun televisi yang ada di Pakistan. Great victory for the troubled nation, biarkan bangsa ini sejenak tersenyum dengan kemenangan manis ini, agar goresan luka disana sini dapat sejenak terlupakan oleh rakyat Pakistan, karena rasanya hampir terlalu lama rakyat bermuram durja. Pakistan Zindabab..




