Monday, June 22

Kemenangan Untuk Bangsa Yang Gelisah


Sebentuk kemenangan yang mengharukan, disaat kondisi negara yang morat-marit dalam kungkungan berbagai kejadian yang membuat rakyat jelata semakin terhimpit. Ada sebentuk harapan cerah dan kebanggaan tersendiri, bahwa dalam kondisi yang serba sulit dan tidak terpredediksikan ini, tim Cricket nasional Pakistan berhasil memenangkan Twenty20 World Cup Championship, setelah Minggu malam pertandingan final yang menegangkan melawan Tim Cricket Srilanka yang diadakan di London.

Kata-kata sang kapten tim, Younus Khan yang mengharukan yang di rilis di berbagai media membuat kemenangan ini sebagai kemenangan yang extraordinary. ‘We hadn't won anything since Imran Khan's team at the World Cup in 1992. This is a our gift to our nation. Hopefully, it will help cheer them up.’ Semenjak kemenangan tim Imran Khan kita tidak lagi menjuarai World Cup, dan kemenangan ini merupakan hadian untuk bangsa kami, semoga dengan kemenangan ini dapat membuat mereka semua bahagia dan bangga.

Setelah peristiwa serangan atas tim cricket Srilanka beberapa waktu lalu, ada kepesimisan muncul karena tim cricket Pakistan terancam tidak bisa mengikuti turnamen bergengsi ini. Bukan hanya karena isu terorisme, serangan atas rombongan tim Srilanka yang hanya sehari sebelum pertandingan ini, menorehkan luka dalam atas masa depan keikutsertaan Pakistan pada turnamen Cricket Internasional, sehingga setelah peristiwa tersebut, organisasi cricket internasional melarang di adakannya turnamen cricket skala internasional di bumi Pakistan.

Dengan outdoor screen yang di pasang hampir di tiap sudut kamp pengungsian, membuat ribuan pengungsi ini dapat menyaksikan pertandingan bersejarah ini. Kurang lebih sekitar dua juta pengungsi dari kawasan NWFP dengan kondisi perang yang masih sengit di lembah Swatt antara tentara Pakistan dan militan dan diantara krisis yang terjadi di Waziristan Selatan, sebuah kabar gembira atas kemenangan ini seakan-akan menjadi single panaccea, atas penyakit akut yang selama ini telah di derita rakyat.

Tentu sudah bukan rahasia umum lagi, masalah keamanan internal, menjadikan kontingen asing merasa terancam keamanannya untuk dapat bermain di Pakistan. Karena semenjak peristiwa penembakan atlit cricket srilanka, praktis tidak ada lagi kontingen asing yang menjadi tamu di negeri Bhutto ini. Dan kesediaan London sebagai tuan rumah atas pertandingan final world cup cricket ini memberikan harapan baru dari kepesimisan kontingen cricket Pakistan.

Dan pertandingan hari Minggu kemarin menunjukkan bahwa mereka bertanding dengan semangat membara untuk menjadi pemenang. They played great..terlebih menit terakhir yang mendebarkan, dan Shahid Afridi pemain andalan tim ini berhasil menutup pertandingan ini dengan kemenangan yang menjadi tongak sejarah kemenangan Pakistan di ajang bergengsi Twenty20 World Cup Championship.

Sontak, pesta terdengar dimana mana, kegembiraan yang menjadi sebuah hiburan dari kepesimisan atas kondisi internal yang selalu diselimuti ketidakstabilan internal. Pesta kembang api, grup musik jalanan, orang membagi-bagikan sweet (sebuah tradisi dalam tiap perayaan tertentu mereka akan membagi-bagikan sweet, semacam manisan kepada siapa saja yang lewat), dan sebagian berkonvoi keliling kota sambil berjoget diiringi gendang pesta dari tempo lambat dan semakin cepat menghanyutkan rombongan konvoi pesta kemenangan ini.


Hari itu, sejenak headline berita dipenuhi dengan berita kemenangan tim Cricket Pakistan, dari channel BBC sampai CNN merilis kemenangan ini, lagu we are the champion di kumandangkan hampir di seluruh stasiun televisi yang ada di Pakistan. Great victory for the troubled nation, biarkan bangsa ini sejenak tersenyum dengan kemenangan manis ini, agar goresan luka disana sini dapat sejenak terlupakan oleh rakyat Pakistan, karena rasanya hampir terlalu lama rakyat bermuram durja. Pakistan Zindabab..

Wednesday, June 17

Cinta Sejati

Dalam hamparan kain sajadahku kucoba pejamkan kalbu, mencari-cari adakah kutemui cahaya yang selama ini menyalakan bara cintaku, kurapatkan telinga ini, mencoba mencari bisikan cinta yang sayup terdengar namun kian jauh tergapai diri, tertangkupku ditengah buaian cinta, bertutur dalam balur cinta mati, terhujam menusuk kalbu terdalam, tenggelam di dasar pijar nafsu.
Kutemukan cinta di tiap detik helaan nafas hidup, dalam suap demi suap protein yang menguatkan pikir, dalam tiap karbohidrat yang menguatkan tenaga, dalam asupan kalsium yang menyangga berat badanku agar tidak rubuh dalam terpaan badai.
pijaran cinta ini kenapa berat tergapai, berpijar mengelilingi semua sudut hidup tapi tak cukup menguatkan diri untuk menjadi ikhlas dan sabar. Bukankah cinta menjadikan seseorang semakin kuat meniti hidup, tanpa pamrih..
terlalu dangkal terpahami makna cinta yang sulit tergapai dalam kerangka nafsuku sebagai seorang manusia biasa, barangkali sauh terlalu sulit kulepas sehingga dapat diri ini menepi, mencari harta karun cinta sejati yang jauh tersembunyi ditengah belantara hidup sehingga menguatkan diri agar dapat berserah dengah keikhlasan dan kesabaran.

Wednesday, June 10

Perang, Bom dan Pengungsi

Antrian di pemukiman camp IDP

Teroris..

Siapa sebetulnya mereka? wacana teroris semakin nyaring terdengar bersama dengan peristiwa 11 September, seorang tokoh dengan nama Osama bin Laden mendadak menjadi jawara tokoh teroris internasional yang mengancam ketentraman dan kedamaian dunia.

Tudingan beralih ke wilayah Afghanistan, sehingga serangan maha dasyat atas negara Taliban melawan tehnologi yang serba canggih, hingga kini base-camp raksasa tentara AS ada di tengah padang landlock tanah Afghanistan, berusaha untuk menyudahi keberadaan Taliban di wilayah ini.

Sementara Pakistan, sang tetangga menjadi sasaran tudingan pula, dengan dalih wilayah tribal area menjadi surga base camp pelatihan dan perekrutan Taliban di wilayah Pakistan. Trilyunan USD dana mengalir, entah barangkali dengan dalih pembangunan infrastruktur, sarana pendidikan dan kesejahteraan, tapi bersamaan dengan itu pula, justru memunculkan neo-neo Taliban di bumi pakistan, terlebih di wilayah North Waziristan, dan NWFP (North West Frontier Province) di wilayah swatt dan kawasan FATA (atau tribal area)

Kegatalan pemerintah atas keberadaan mereka yang sering membuat masyarakat setempat tidak tentram, menjadikan pemerintah menyetujui pemberlakukan Nizam-ul-Adl dengan barter jaminan keamanan dan ketertiban, tetapi sayang..ternyata tidak berjalan dengan mulus, sementata aksi-aksi bom bunuh diri semakin marak terjadi.

Operasi militer kemudian menjadi pilihan, jutaan penduduk setempat terpaksa mengungsi menyelamatkan diri dari kawasan gencatan senjata, sebuah pilihan yang berat, karena mereka terpaksa meninggalkan tanah, ladang, ternak dan kebun-kebun, garapan mereka yang tidak sedikit sudah siap panen. Karena wilayah ini merupakan kawasan lembah subur yang menyokong export agrobisnisnya Pakistan. Jutaan rakyat mengungsi, IDP (Internally Displaced People) julukan mereka, trilyunan dana dikucurkan untuk mendirikan camp pengungsian berupa tenda-tenda darurat sampai sekolah untuk anak-anak mereka.

Saat musim panas sedang pada puncak teriknya, saya tidak terbayang bagaimana panasnya hidup di tenda-tenda pengungsian.

Dan TNSM mulai terjepit, sebagian kawasan mulai dinyatakan cleared, aman, dan penduduk yg kotanya dinyatakan aman di perbolehkan untuk kembali ke desanya. Tapi, apakah semudah itu? Disana mereka terjepit dan terpukul mundur, tapi keterjepitan mereka justru semakin menambah ancaman serangan bom bunuh diri di wilayah kota besar.

Karena puluhan milisi Taliban diberitakan tertangkap menyusup diantara para IDP, sementara tidak menutup kemungkinan ada yang sudah masuk kawasan kota, dan menyusun strategi untuk menghancurkan gedung-gedung strategis.

Belum ada dua minggu lewat aksi serangan bom atas kantor pusat unit pertolongan Rescue 15 di kota Lahore, sehingga meluluhlantakkan gedung ini, seminggu kemudian bum bunuh diri di tengah-tengah para jamaah sholat jum'at yg menewaskan tidak kurang dari 39 orang, terjadi di kawasan Upper Dir, selang sehari kemudian kembali bom bunuh diri di unit Rescue 15 wilayah Islamabad yg menewaskan 5 org, dan tadi malam kembali bom mobil yang membawa sekitar 500 kg peledak berhasil menerjang cekpos sekuriti pintu masuk hotel terbesar di kota Peshawar, Pearl Continental Hotel, yg meluluh lantakkan setengah bangunan hotel tersebut sehingga menjadi puing yang hampir roboh. Korban terus bertambah, diantara reruntuhan bangunan.

Mengikuti berita tersebut rasanya kita hendak mati rasa, sebegitu tidak berharganyakah nyawa manusia, tentu ada pihak yang di untungkan dengan peristiwa ini, pelaku, donatur dan kambing hitam. Yang jelas kemenangan militer dalam operasi ini berdampak pada semakin vulnarable-nya kota kota besar atas ancaman serangan bom bunuh diri.

War is over when you finished it, menyitir kata-kata John Lennon, perang tidak akan berakhir selama tidak ada yang mencoba untuk mengakhirinya, sama halnya juga perang tidak akan mulai selama tidak ada genderang dimulainya perang, war is the last choice, selama pemerintah dan Taliban tidak berusaha untuk mencoba mengakhiri perang ini dan saling toleransi atas keberadaan masing-masing barangkali kerugian dan trauma peperangan ini dapat diminimalisir.

Sama halnya dgn kasus Ambalat, jangan sampai kasus tersebut memprovokasi rakyat kita untuk mendengungkan perang, karena perang itu pahit..getir, segetir-getirnya. Semoga kita tidak menjadi bangsa yang mudah terprovokasi oleh media.

Friday, June 5

Tips Bayi Tidur, Mengenalkan Jam Tidur Pada Bayi

Kelahiran buah hati tentu selalu dinantikan oleh pasangan suami istri, apalagi oleh pasangan yang belum di karunia anak, terlebih kelahiran buah hati pertama, tentunya ada perasaan ketar-ketir, was-was dan sebagainya. Semuanya bercampur menjadi satu.

Bagi saya pribadi, menjadi orang tua adalah suatu proses, masa pernikahan, kehamilan sampai masa kelahiran sang anak merupakan pembelajaran bagi pasangan suami istri untuk berproses kelak menjadi orang tua bagi anak-anaknya. Proses ini tidak otomatis berjalan secara positif dengan sendirinya tanpa usaha dari diri kita untuk melakukan pengembangan diri atas apa saja yang selayaknya kita ketahui baik sebagai orang tua maupun calon orang tua. Mempelajari suatu hal yang bersangkutan dengan keluarga, anak-anak, parenting tentu tidak ada salahnya, karena diakui atau tidak nanti kita akan sampai pada fase tersebut.

Silahkan klik disini untuk membaca selengkapnya

Wednesday, June 3

Pembebasan Ibu Prita, Wujud Makin Kuatnya Advokasi Publik

Ibarat jatuh tertimpa durian, sudah sakit malah di penjara pula, dipisahkan dengan anak-anaknya yang masih balita.

Kasus pencemaran nama baik tersebut berawal ketika Prita menuliskan keluhannya dalam bentuk surat elektronik (e-mail) kepada kalangan terbatas tentang pelayanan RS Omni. E-mail yang berisi keluhan atas pelayanan RS Omni Internasional yang tadinya di kirimkan ke sepuluh orang temannya itu, tersebar di milis, menjadikan isue ini membesar dan pihak RS Omni Internasional mengajukan gugatan atas dasar pencemaran nama baik RS Omni. Isi e-mailnya bisa diakses di Blog Cebong.

Dalam gugatan perdata, Pengadilan Negeri Tangerang memenangkan pihak RS Omni sehingga Prita menyatakan banding. Namun, Prita ditahan oleh pihak Kejaksaan Negeri Tangerang di LP Wanita Tangerang sejak 13 Mei. Adakah pihak yang prihatin terhadap kasus Prita? Jawabnya, tentu ada. Masalahnya, yang memberi advokasi maupun perhatian justru bukan berasal dari kalangan elit negeri yang notabene kini sedang meramaikan kompetisi Pilpres. Tetapi dukungan terhadap Prita justru mengalir dari Dewan Pers, para blogger, Fesbuker, bahkan Komnas HAM menyesalkan penahanan Prita Mulyasari.

Banyak kalangan yang mencermati bahwa penahanan Ibu Prita adalah suatu bentuk ketidakadilan dan kesewenang-wenangan aparat yang mudah main tangkap dan menahannya begitu saja. Bukan hanya sekadar terhadap kasus semata, penahanan terhadap Prita yang masih memiliki balita menyusui inilah yang kian menyebabkan perhatian terhadap Prita terus bermunculan. Perhatian para petinggi negeri justru muncul setelah makin banyaknya dukungan untuk ibu Prita dan setelah pemberitaan media. Seakan-akan kasus ini menjadi momen yang tidak boleh terlewatkan bagi para capres untuk manarik simpati. Sehingga sore tadi dukungan ini menuai hasil, dengan di bebaskannya Ibu Prita menjadi status tahanan kota, menjadikannya dapat bertemu kembali dengan buah hatinya yang masih balita.

Terlepas dari semakin bereskalasinya politik dalam negeri kita menyambut Pilpres 2009, tetapi dari kasus ini ada yang beberapa hal yang perlu perlu di cermati secara mendalam.

Pertama, pada kasus ini kita semua menyaksikan, bahwa rakyat kita semakin cerdas dalam menilai ketimpangan yang terjadi. Dalam penanganan perkara itu, polisi tadinya menjerat Prita dengan pasal pencemaran nama baik sesuai KUHP yang ancaman hukuman maksimalnya 6 tahun, dan denda satu milyar rupiah. Namun saat ditangani oleh kejaksaan, diduga ditambahkan pasal yang disangkakan terhadap Prita dengan pasal 27 UU 11/2008 tentang pencemaran nama baik melalui dunia maya.

Kedua, advokasi publik baik itu melalui media, memberikan dukungan bagi Ibu Prita yang semakin meluas melalui jejaring sosial seperti Facebook, di sebuah grup Dukungan Bagi Ibu Prita Mulyasari, Penulis Surat Keluhan Melalui Internet Yang DiPenjara, setidaknya kurang lebih ada delapan ribu orang mendukung dan meminta Ibu Prita dibebaskan. Belum lagi di dukungan yang mengalir di cause Facebook Dukungan Bagi Ibu Prita Mulyasari, Penulis Surat Keluhan Melalui Internet Yang DiPenjara, yang saat ini sudah mencapai sekitar 80 ribu orang yang bergabung. Kesemua ini mampu memberikan kontribusi positif sekaligus kontrol pada perilaku penegak hukum. Sehingga lewat media tersebut setidaknya kasus seperti ini tidak terulang kembali, dan aparat penegak hukum dapat semakin sadar, berhati-hati dan tidak dengan mudah bermain dengan hukum.

Ketiga, kasus ini mengingatkan instansi hukum baik penegak hukum maupun praktisi hukum, bahwa ketidakadilan dan kesewenang-wenangan tentunya akan berimbas pada tercorengnya kredibilitas lembaga yang terkait, baik itu kepolisian maupun kejaksaan.

Dari sini, dapat kita petik, bahwa solidaritas yang di jalin baik itu melalui situs jejaring sosial maupun blogger dapat memberikan kontribusi positif demi tegaknya peradilan di negeri kita, dan semoga peristiwa ini menjadi tamparan untuk mereka-mereka yang selalu bermain-main dengan hukum dan membodohi rakyat.