Thursday, April 30

Award di Penghujung Musim Semi

Tidak terasa semburan panas mengawali pergantian musim semi ini, tapi masih tersisa keindahan bunga yang menari-nari di tiap sudut jalan. Rasanya masing-masing tetumbuhan berusaha bersolek dan memperlihatkan keindahan yang dimilikinya, sampai-sampai rumput pun turut merayakan pesta bunga, dengan mempertontonkan gaya magis kembang liar yang memenuhi lahan-lahan yang kosong. Atau jika agak naik keatas, ke bukit Margalla..aroma bunga kemuning liar tercium harum semerbak. Jalan-jalan raya dirindangi dengan nuansa ungu pohon Chakaranda, sementara terik matahari mulai berasa memijar dan sebentar lagi bunga-bunga sedikit-demi sedikit akan terkikis oleh teriknya panas.

Ketika siang mulai memanjang, adzan Maghrib berkumandang pada pukul 7.30 sore sementara adzan Shubuh mulai terdengar jam 4 pagi, adalah pertanda siang akan semakin panjang, malam akan terasa singkat. Dan sebentar lagi sekolah-sekolah akan menghadapi ujian akhir yang akan ditutup dengan libur panjang selama musim panas. Biasanya selama dua setengah bulan libur ini anak-anak sekolah dibekali dengan setumpuk pe er yang kira-kira disebut dengan istilah fun-raiser, yang nantinya dikumpulkan mengawali masuknya masa tahun ajaran baru, pertengahan Agustus yang akan datang.

Rasanya jenuh kalau ngrasani hiruk pikuk tingkah polahnya pemerintah Pakistan yang saat ini sedang semangat menghabisi kawanan kelompok Taliban, yang beberapa waktu lalu sempat menguasai wilayah Buner, hanya berjarak 100 km dari kota Islamabad. Amerika mulai gatal-gatal dan garuk-garuk kepala, hingga baru-baru ini akan kembali mengucurkan dana tidak kurang dari 400 juta dollar untuk membantu Pakistan memerangi terorisme. Padahal sekarang tidak kurang sudah menelan sekitar 165-an juta dollar, jika dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan dan industri di kawasan FATA maupun Swat tentu tidak ada lagi apa yang disebut Taliban. Tapi entahlah, sepertinya Taliban ini juga dijadikan aset komoditas negara agar memudahkan kucuran bantuan asing mengalir ke dalam negeri, meskipun lagi-lagi hanya segelintir orang yang kebagian.

Kasus bom bunuh diri yang menewaskan sekitar 12 anak-anak sekolah beberapa waktu yang lalu membangkitkan kegeraman pemerintah, padahal baru saja pemerintah tengah menyetujui diterapkannya Nizam-l-Adl dengan syarat TNSM (Taliban) bersedia untuk meletakkan senjata dan tidak lagi mengancam serangan bom bunuh diri. Ah..tapi perjanjian hanya seumur jagung..

Bermula ketika suatu hari seorang anak kecil didatangi oleh orang tak dikenal dan meminta kepada keluarganya untuk dijadikan umpan bom bunuh diri. Kedua orang tua anak tersebut tentu saja menolak, sehingga keesokannya tetap mereka mengirim anaknya untuk tetap masuk sekolah, sampai tiba-tiba sepulang sekolah sang anak mendapatkan boneka mainan, entah dari siapa..dan bumm..!! ternyata mainan tersebut berisi bom dan anak tersebut tewas bersama belasan kawan lainnya..Tragis, apa untungnya..!! anak kecil ini tidak tau menahu bahkan keluarganya sendiri keberatan. Mungkin ini hanya sebuah kisah, karena masih banyak lagi nasib para suicide bomber yang melakukan aksi karena ketidaktahuan.

Peristiwa ini menaikkan amarah pemerintah sehingga seminggu ini nyaris tiga kota diserbu oleh pasukan tentara elit Pakistan, bermula dari wilayah Lower Dir, Buner, sementara di kawasan North Waziristan juga diserang oleh Drone-nya Amerika. Disisi lain Karachi memanas (kota industri dan kawasan pusat export-import terbesar yang merupakan jalur sea-exit untuk wilayah land-lock negara-negara Asia Tengah dan Afghanistan), hari ini di Karachi semua sekolah-sekolah, kampus-kampus, sampai madrasah-madrasah semua diliburkan, lebih dari 20-an nyawa melayang.

Taliban adalah neo-mujahidin zaman US ingin menghancurkan USSR, dulu mereka di tampung, di persenjatai, diberi tempat, di beri donasi kuat, sampai akhirnya melalui mereka Uni Soviet bertekuk lutut, setelah masa itu selesai, mereka dibiarkan begitu saja, dicuekin mungkin begitu kasarnya..tentu saja, idealnya begini..jika biasanya mereka dipergunakan, makmur kemudian mereka dibuang begitu saja, tentu akhirnya mereka akan mengelompok di satu tempat. Sampai kemudian mereka mendirikan negara Taliban di Afghanistan yang kemudian dihancurkan juga oleh Amerika. Terlepas kelompok ini islamist atau bukan, tapi saya hanya memandang dari sisi kebijakan strategi saja. Sampai ketika kelompok ini kocar-kacil, akhirnya mereka mengungsi membuat shelter di kawasan Tribal Area, wilayah Pakistan yang berada dekat dengan kawasan yang berbatasan dengan Afghanistan yang pemerintahannya bersifat semi otonom. Disinilah kekhawatiran US mulai gatal-gatal, mereka selalu bilang bahwa FATA the safe heaven-nya perekrutan teroris. Dan perlu anda ketahui..wilayah ini notabene dengan garis suku Pastun, yang mereka ini rata-rata sifatnya, tidak takut mati dan real gladiator, kalau boleh saya bilang.

Wes embuhlah..cerita ngga nggenah dan ngga karuan juntrungannya, lebih baik saya balik ke semula saja..mau posting award. Maaf sobat-sobat kalau baru sempat posting awardnya..
Pertama award dari mas Joe, blog opprek blogger yang banyak manfaatnya jika ingin belajar tentang blogging di blognya, dari tutorial sampai cara monetize blog juga bisa anda dapatkan di blog nya mas Joe ini. Sayang ketika posting ini blognya belum bisa diakses, jadi link nya to be continued..

Award yang kedua dari inuel dengan blog jomloku-nya yang sekarang lagi ganti kulit jadi hitam, barangkali lagi mau jadi hantu ya hehehe..awas lo nuel, blog cewek kalo hitam suka disapa mas..seperti blog saya, sering ada yang nyapa di sb dengan panggilan mas. Mungkin warna hitam identik dengan blog laki-laki kali ya..tapi ngga juga sih..untuk pe er nya saya sudah kerjaan sebelumnya, jadi nuel lihat pe er nya disini ya..

Award ketiga dari kang Dede, blog masih baru udah ketiban award, begitu katanya..makasih sekali sudah berbaik hati memberikan award ini ke saya. Semoga blog dede-online nya makin ramai, kalau udah ramai jangan lupa bagi-bagi rejeki..hehe loh apa hubungannya ya..just kidding kang..saya berharap suatu saat bisa transit di Singapura untuk minta jatah syukuran dari bisnis online nya hehehe..kapan ya..Naik SQ mahal rek..

Karena dapat award jadi saya mau kasi award ke satu blog saja, yang udah ngerjain saya dengan repiu-blog, dan sempat membuat saya ngakak guling-guling karena repiu nya, tapi makasih jadi nambahin pengunjung. And the award goes to blog trimatra..baru seumur jagung tapi sudah rame aja kayaknya lalu lintasnya, sebentar lagi perlu dikasi bang-jo biar pengunjungnya ngga tabrakan.

Sampun nggih..tugas saya di akhir bulan ini selesai juga..Untuk postingan awal bulan, saya akan share resensi buku tentang Gender and Democracy in Indonesia, sebuah buku baru terbitan 2009 hasil berburu di gugel. Karena beberapa waktu lalu saya pergunakan untuk resensi pemikiran kartini yang saya kirim ke koran setempat, nanti saya share buku dalam bentuk pdf nya bagi yang tertarik untuk memilikinya.

Saturday, April 25

Cake Labu Kuning

Sebetulnya saya paling malas kalo urusan membuat kue, apalagi kue manis, secara anak-anak juga kurang suka dengan kue manis, karena saya lebih suka uji coba masakan ketimbang membuat kue, mungkin karena anak-anak masih krucil-krucil kali ya, jadi kalo ibunya lagi repot bikin kue ikutan bantuin, bisa kebayang kan itu adonan diublek-ublek gak karuan, terutama si Hilda. Tapi berhubung ada moment yang membuat saya kebagian jatah membuat kue manis, jadi buka-buka resep kue yang mudah dibuatnya. Resep ini bukan jarahan dari pak gugel lho..tapi memang asli ngintip dari koleksian kumpulan resep kue. Ujicoba juga memodifikasi resep yang ada, syukurlah akhirnya jadi juga, karena kalo ngga jadi alamat saya sendiri bisa-bisa yang menghabiskan hehehe..

Bahan:

250 gram mentega, atau butter
200 gram gula kastor (gula halus)
3 butir telur ayam
150 gram labu kuning yang sudah dikukus dan dihaluskan
100 cc air perasan jeruk, bisa jeruk sankis atau jeruk mandarin
150 buah prune cincang atau bisa diganti dengan kismis
200 gram tepung terigu atau bisa diganti dengan self raising flour
50 cc susu cair
1 sndk makan ovalet (pengembang kue)

Silahkan klik disini untuk kelanjutannya

Sunday, April 19

Sudahkah Kartini-Kartini Kita Diberdayakan...?

Problematika perempuan rasanya tidak ada habisnya selalu mengemuka, muncul ke permukaan, menjerit meminta perhatian akan sebuah solusi yang dapat meminimalisir problematika yang ada.

Gaung pemberdayaan perempuan semestinya sudah bisa dirasakan sampai ke pelosok negeri kita, karena perjuangan Kartini sudah hampir lebih dari seabad kita peringati, surat-surat beliau senantiasa dijadikan sumber renungan, dan sebagai mercusuar pergerakan perempuan di Indonesia, tapi nyatanya gaung tersebut hanya berupa genderang sayup-sayup yang hanya dirasakan oleh kelompok perempuan urban yang notabene berada di perkotaan.

Ada yang menggelitik ketika beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah headline di harian kompas yang berjudul 'Kartini-Kartini di Penampungan', yang diterbitkan pada tanggal 15 April lalu, sebuah judul yang memberikan pesan, bahwa para pekerja-pekerja wanita kita yang ada di negeri jiran, masih memerlukan perlindungan hukum yang solid. Para wanita-wanita ini umumnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga, jauh meninggalkan anak-anak dan keluarga mereka untuk menyambung ekonomi keluarga. Mereka sangat rentan sebagai korban agen-agen tenaga kerja illegal yang seenaknya saja mengirimkan tenaga kerja tanpa surat-surat resmi. Kasus yang terjadi sangat beragam, mulai dari kasus kekerasan baik verbal maupun fisik, permasalahan yang berkenaan dengan penempatan kerja, gaji yang terkadang justru di ambil oleh agen penyalurnya, hingga kasus penipuan yang tidak jarang membuat mereka terpaksa kehilangan segala-galanya.

Belum lagi kasus KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) yang masih sering terjadi, arus krisis global makin memicu semakin marak terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, terlebih lagi jika hal tersebut mengatas namakan agama. Sering agama disinyalir memperbolehkan suami untuk memukul istrinya, padahal tentu saja dalil-dalil seperti itu mesti berdasarkan pada kondisi tertentu. Meskipun jika anda tinggal di kota hal ini jarang terdengar, tapi di kawasan pedesaan tentu hal ini seringkali menjadi fenomena yang lumrah.

Tingginya angka kematian ibu juga makin memperpanjang rentetan permasalahan perempuan yang butuh penanganan maksimal. Dari data yang saya peroleh dari Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia, kasus angka kematian ibu di Indonesia pada kisaran 307 per 100.000 kelahiran hidup. Itu artinya dalam jangka waktu dua jam ada ibu yang meninggal, entah karena persalinan, aborsi atau keguguran. Angka tersebut menunjukkan kurangnya sosialisasi pemahaman sistem reproduksi perempuan. Sehingga informasi tidak menjangkau seluruh segmen masyarakat, terlebih lagi dengan makin mengendornya kesadaran masyarakat akan pentingnya program keluarga berencana, makin menambah makin tingginya angka kematian ibu. Program keluarga berencana ini bukan semata membatasi kehamilan, akan tetapi memberi jarak kehamilan sehingga seorang ibu dapat secara maksimal memberikan pengasuhan dan perawatan pada anaknya, sehingga akan menumbuhkan generasi-generasi yang cakap pada masa mendatang.

Tahun 2010 mendatang Indonesia diprediksikan akan mengalami lonjakan demografi, artinya penduduk usia produktif meningkat dua kali lipat separuh dari seluruh populasi penduduk Indonesia. Hal ini berarti jika pengembangan SDM tidak didukung dengan pola pengasuhan anak yang maksimal, disamping gizi yang seimbang, sepertinya lonjakan demografi ini bukan sebagai blessing, anugrah tapi bencana, seiring dengan melonjaknya angka pengangguran. Dan kesemuanya itu bermula dari seorang IBU..

Hari kartini ini adalah sebuah momentum penting, bukan hanya untuk perempuan Indonesia, tapi bagi bangsa Indonesia, bahwa perjuangan kaum perempuan masih panjang, karena masih sederet pe-er panjang yang perlu diperhatikan, semoga spirit Kartini selalu mewarnai langkah-langkah panjang gerakan pemberdayaan perempuan, menuju perempuan yang sehat, dinamis dan sejahtera.

Sebagaimana cita-cita Kartini dalam notanya untuk Rooseboom, dalam Sulastin (Dri Arbaningsih;2005) Berilah pendidikan kepada perempuan Jawa, gadis-gadis kami! Didiklah budinya dan cerdaskan pikirannya. Jadikanlah mereka perempuan yang cakap dan berakal, jadikanlah mereka pendidik yang baik untuk keturunan yang akan datang! Dan bila pulau Jawa mempunyai ibu-ibu yang cakap dan pandai, maka peradaban satu bangsa hanyalah soal waktu saja.

Selamat Hari Kartini

Monday, April 13

Paska Pemilu..Now What...

Sudah hampir seminggu lebih rasanya blog ini ngga berpenghuni, mungkin sudah dihuni ratusan roh halus karena pemiliknya KO..kalah telak setelah serangan pemilu hehehe..wah segitu dasyatnya ya serangan pemilu, asal ngga sampai masuk rehabilitasi karena stress gagal jadi legislatif :)

Hanya sebuah cacatan kecil yang mungkin melintas sekilas di benak pikiran seorang saya yang tidak berarti apa-apa. Saya salut karena pemilu kali ini berjalan dengan aman, peacefull tidak ada kerusuhan yang menghawatirkan, sebagaimana KTT ASEAN di Thailand..lho kok nyasar kesitu. Sebagian rakyat ada yang antusias dan semangat untuk memberikan pilihannya dengan
berdatangan menuju TPS, meskipun tidak sedikit juga masih besikap parochial dengan tak acuh atas gebrakan pemilu kali ini. 

Golput, masih masuk dalam persentase banyak di pemilu kali ini, terlepas dengan seruan fatwa pengharaman Golput oleh MUI beberapa waktu lalu yang meraup kontroversi disana-sini. Tetapi saya kira golput bukan semata disebabkan karena tidak mau memilih, tetapi tentu banyak faktornya, bisa dikarenakan keterbatasan data si pemilih sehingga terpaksa dia golput. Terlepas dari itu semuanya meningkatnya golput adalah bukti bahwa kesadaran kultur politik masyarakat kita masih perlu ditingkatkan, hal tersebut tentu saja akan menjadi tugas berat pada pemerintahan yang akan datang.

Setelah hampir mau seminggu paska pemilu, saat ini apa yang kita saksikan di hadapan kita, sebentuk bargaining politik, jual beli tender, memainkan bidak catur dalam kancah rencana perkoalisian antar partai, yang masih tidak jelas perkoalisian antar partai mana yang akan menjadi pemegang lembaga eksekutif dan memegang kendali birokrasi pemerintahan kita untuk masa lima tahun kedepan. 

Rasanya, lima menit di bilik suara itu berakhir pada adu bidak di elit politik, kita yang hanya sebagai relawan pemilih hanya termangu melihat perrolehan suara, adakah partai yang dulu banyak memberikanku amplop menang...? jika ternyata kalah, mungkin praktisi partai harus bisa menerima kekalahan dengan lapang dada, dan yang menang semoga tidak semakin menjadikan kemenangan tersebut sebagai kemenangan yang arogan. 

Friday, April 3

Memahami Gerakan Militansi di Pakistan

Hanya berselang beberapa minggu setelah serangan terrorist atas team criket asal Sri Lanka di kota Lahore, yang pernah saya tuliskan di postingan sebelumnya, hari Senin lalu kembali aksi terror yang menewaskan sedikitnya delapan orang polisi dan dua orang sipil, kembali mengguncang kota ini. Serangan sekitar pukul 7.30 sempat membuat Pakistan kembali menjadi jawara di media internasional. Sekitar 400-an perwira polisi disandera dalam asramanya oleh orang-orang bersenjata yang tidak dikenal, menembaki siapa saja yang menghalangi aksi mereka.

Akademi polisi di daerah Manawan, yang berjarak hanya beberapa kilometer dari perbatasan India-Pakistan di Wagah, merupakan akademi polisi terbesar di kawasan provinsi Punjab. Pasukan elit antiterroris squad dan pasukan ranger dikerahkan, salah satu dari dua mobil artileri anti peluru yang di kerahkan untuk mengepung wilayah tersebut juga hancur bekeping-keping, karena ternyata mereka mempunyai cukup persenjataan, yang bisa menghancurkan mobil tersebut. Baru sekitar pukul empat sore waktu setempat, akhirnya peristiwa terebut dinyatakan cleared, empat orang aktor terrorist meledakkan dirinya, sementara dua orang lainya tertangkap dan selebihnya mati tertembak oleh satuan tentara.

Geram memang, apa sebenarnya maunya mereka, padahal baru seminggu sebelumnya peristiwa bom bunuh diri yang menewaskan tidak kurang 50-an orang ketika jama'ah sholat jum'at sedang dimulai, masih belum hilang dari ingatan kita.

Sebuah tulisan menggelitik oleh seorang pakar strategic studies Shireen Mazari mengungkapkan dalam artikel opini di salah satu koran berbahasa ingris setempat. Beliau adalah salah satu guru besar di salah satu kampus tertua di Islamabad, juga dirjen strategic studies, yang pernah dicekal pada masa regime Musharraf, juga penulis buku The Kargil Conflict yang mengkritik pemerintahan Nawas Sharif atas kebijakan nuklirnya.

Dalam analisanya lebih jauh dia mengatakan, bahwa aksi militansi makin marak diberitakan pada akhir-akhir ini, lebih disebabkan karena pemerintah terlalu berharap banyak pada kebijakan Amerika untuk menyelesaikan masalah domestik Pakistan.

Bantuan non-militer sekitar 2.8 juta dollar yang rencananya akan dicairkan pertengahan bulan April ini mungkin akan membawa dampak lain pada politik Amerika atas Pakistan. Kesalahan bukan pada bantuan nominal tersebut, tapi dengan bantuan tersebut artinya pemerintah secara unconditional, serta merta tunduk pada mantra-mantra kebijakan yang diberlakukan US atas Pakistan. Yang semakin memperburuk keadaan dan semakin menambah sentimen anti-Amerika menguat di kawasan ini, terlebih lagi serangan Drone yang tadinya akan di hentikan setelah masa Obama juga nyatanya masih saja diteruskan.

Peta militansi di Pakistan sebenarnya bermuara pada kesalahan kebijakan pemerintah itu sendiri, memerangki rakyatnya sendiri ketimbang memakmurkan rakyatnya dengan program pemberdayaan atau pengentasan kemiskinan, karena selama bahan pokok masih tidak terjangkau harganya oleh rakyat jelata, selamanya Pakistan akan menjadi the safe heaven for terrorist. Ada tiga muara utama pergerakan terrorist yang ada di Pakistan, pertama, Pergerakan Balochistan, kedua, pergerakan extremist yang identik dengan pergerakan Taliban, ketiga, militansi karena latar belakang kemiskinan, dan keempat adalah militansi yang disebabkan oleh kebijakan yang diberlakukan Amerika itu sendiri.

Pertama, pergerakan Balochistan seperti halnya pergerakan Aceh merdeka, murni sebuah pergerakan politik bermuara pada tuntutan untuk memerdekaan diri, hal ini disebabkan karena kepincangan kebijakan pemerintah, sehingga wilayah yang sebetulnya kaya dengan kekayaan migas tetapi mereka sendiri tidak merasakan hasil bumi yang mereka miliki itu sendiri. Masalah Balochistan sebetulnya dapat terselesaikan jika pemerintah pusat dapat merespon secara positif pergerakan tersebut, setapi keengganan pemerintah pusat untuk mencarikan solusi yang adil makin memperparah keadaan, sehingga yang terjadi justru mengundang kepentingan asing untuk memberikan dana dan supply senjata sehingga memungkinkan perkecambahan militan di wilayah ini.

Isu ini makin diperparah dengan berkomplotnya USA dengan kelompok militan Jundullah, untuk membuat basis di wilayah Juzuk dan Shamsi dengan maksud merongrong stabilitas wilayah yang berbatasan dengan Iran. Ditambah lagi dipergunakannya lapangan udara Bandari di selatan Kharan, untuk menerbangkan pesaran Drone-nya USA yang menyerang dan menghabisi pergerakan Taliban di wilayah FATA. Memperbaharui strategi yang berfokus pada otonomi daerah dan kemajuan ekonomi serta keluar dari mantra-mantra USA dan kepentingan asing adalah solusi yang terbaik untuk meminimalisir menguatnya militansi.

Kedua, adalah extrimisme agama, pergerakan Taliban yang munculnya paska 9/11 di kawasan Pakistan. Kasus perseteruan antar sekte keagamaan yang muncul karena agresi militer USA di wilayah Afghanistan, yang sebetulnya adalah lemahnya pemerintah untuk memberikan jaminan keamanan pada rakyatnya pada masa penaklukan Taliban di Afghanistan. Ketika ketidakadilan, ketimpangan ekonomi makin dirasakan oleh rakyat dalam kondisi seperti inilah, yang kemudian hari makin memperkuat pengaruh militansi di kawasan ini. Amat disayangkan, bukannya carrot yang dikedepankan -pengembangan sosio-ekonomi dan menumbuhkan stabilitas politik provinsi- untuk menyelesaikan masalah, tetapi pemerintah justru menggunakan stick, dengan mengirim pasukan militer untuk menghabisi pengaruh mereka.

Persoalan ini bukan semata persoalan di kawasan tribal area, tetapi fenomena ini merupakan gambaran negara Pakistan secara keseluruhan, akan sangat wajar, bila pemerintahan menjadi semakin tidak efektif, menguatnya korupsi dimana-mana, bahan pangan menjadi barang yang tidak terjangkau harganya oleh rakyat jelata, madrassahs (pesantren, tetapi perlu diketahui pesantren di Pakistan tidak diakui statusnya oleh pemerintah dan tidak diakreditasi, pembelajaran yang terbatas hanya masalah agama, juga kebanyakan madrasah disini sifatnya masih tradisional dan pendidikannya tidak memungut biaya atau gratis), adalah satu-satunya pilihan untuk mereka yang putus sekolah karena keterbatasan biaya.

Terkadang donasi terhadap madrasah-madrasah juga suply persenjataan sampai perekrutan relawan bom bunuh diri muncul dari sini, sehingga kepentingan-kepentingan kelompok tertentu baik itu diluar atau didalam negeri, yang bertujuan mendestabilisasi Pakistan akan merongrong dan menyelusup, dengan jalan memberikan donasi para maulana pemimpin-pemimpin madrassa tersebut. Para relawaan bom bunuh diri itu sendiri muncul beranjak dari keputusasaan kemiskinan ketimbang karena alasan doktrin agama.

Kelompok ketiga, militan ini sangat jelas muncul dari makin meluaskan angka kemiskinan dan mereka yang tidak mempunyai harapan kehidupan yang layak di masa yang akan datang, baik itu secara pendidian dan ekonomi, keluarga-keluarga dengan kondisi seperti ini lebih senang mengirimkan anak-anak muda mereka untuk menjadi relawan bom bunuh diri, apalagi jika kerelaan anak-anak mereka ini mendapatkan ganti rugi yang tidak sedikit.

Keempat adalah kesalahan pemerintah sendiri juga kebijakan US dalam menanggani isu teroris di kawasan Asia Selatan ini, pemerintan yang terlalu menggantungan donor luar negeri baik itu berupa hibah, soft-loan, bantuan non-militer dari US dan IMF, sementara nyaris bantuan-bantuan tersebut hanya sampai pada strata para orang-orang tertentu sementara kebijakan yang harus diikuti pemerintah makin memperburuk kondisi sosial di tataran rakyat jelata. Mungkin ladang gandum dan produksi gula terlihat meningkat, tapi ironis semuanya itu seakan tidak terbeli oleh masyarakat kecil, dengan makin meroketnya harga kebutuhan pokok.

Isu teroris, bukan hanya semudah isu liberal versus kanan, tapi lebih merupakan isu status quo versus perubahan ; kebijakan pemerintahan, juga ketergantungan kebijakan pemerintah pada dukungan asing versus pada rakyatnya sendiri, sebuah fenomena pemerintahan yang korup dan lemahnya institusi versus kuatnya struktur pemerintahan, dan lebih dari itu, US-centric agenda yang diterapkan di dalam negeri versus people-centric (kerakyatan). Dan nampaknya masih panjang sekali pe er nya, sampai paling tidak munculnya pemimpin yang rasional yang dapat mengambil kebijakan pahit meskipun mahal pengaruhnya di mata internasional. God Knows

NB;

Maaf kalau saya sisipkan disini sekalian, award dari bang Erik di blog kajapa-nya, makasih sekali atas awardnya, juga award dari mas oedil di blog kucing-buntetnya.



Kucing Bunted






Plus saya ingin menghadiahi single award untuk blog bening..semoga mau menerimanya ya, moga makin semangat ngeblognya dengan award ini. Salam kenal juga, makasih kunjungannya.
Ini awardnya silahkan diambil ya..